BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam adalah Pendidikan
yang sangat ideal, Pendidikan
islam tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah islam yang telah
dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki
corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang
dilakukan terus menerus pasca generasi Nabi, sehingga dalam perjalanan
selanjutnya, pendidikan islam terus mengalami perubahan baik dari segi
kurikulum maupun dari segi lembaga pendidikan islam yang dimaksud.
Penelitian
merupakan salah satu cara melakuakan usaha-usaha perbaikan dan pembaharuan.
Ilmu tidak akan bertambah maju jika tanpa adanya penelitian dan pembaharuan.
Upaya penelitian tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh para ulama masa lalu,
termasuk masalah pendidikan. Upaya penelusuran terhadap pemikiran para tokoh
berkaitan dengan pendidikan, khususnya pendidikan islam. Dalam makalah ini kami
paparkan pemikiran beberapa tokoh muslim tentang pendidikan islam.
Dalam mengenal tokoh-tokoh pendidikan islam di Indonesia, maka kita
akan mengenal beberapa nama tokoh yang terkenal. Diantara para tokoh tersebut, sangat andil besar dalam
memperbaharui konsep dan sistem pendidikan di Indonesia khususnya mengenai
pendidikan Islam. Diantara mereka, ada yang merubah atau mengabungkan konsep
pendidikan Kolonial Belanda (modern) dengan konsep pendidikan pesantren
(tradisional), dimana menambahkan mata pelajaran yang tidak hanya pelajaran
agama saja, tetapi juga mata pelajaran umum.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Siapakah tokoh-tokoh pendidikan
Islam masa klasik di luar Indonesia
2.
Siapakah tokoh-tokoh pendidikan
Islam di Indonesia
C.
Batasan
Masalah
Untuk menghindari pembahsan yang tidak sesuai dengan tujuan penulisan ini,
maka penulis sengaja membatasi bahasannya hanya berpusat pada:
1.
Beberapa tokoh Pendidikan Islam
dimasa klasik di luar Indonesia
a.
Riwayat Hidup
b.
Pemikiran Pendidikan
2.
Beberapa tokoh Pendidikan Islam di
Indonesia
a.
Riwayat Hidup
b.
Pemikiran Pendidikan
D. Tujuan Penulisan
Dari rumusan dan batasan masalah di atas, tulisan ini
bertujuan untuk:
1.
Khasanah keilmuan.
2.
Sebagai bahan perbandingan pendapat
antar tokoh pendidikan Islam dalam berbagai masa.
3.
Penambah wawasan bagi para calon pendidik
terutama dalam bidang Pendidikan Agama Islam.
4.
Sumbangan pemikiran bagi saudara-saudara yang
membutuhkan.
5.
Sebagai pelengkap tugas mata kuliah
Kapita Selekta Pendidikan Islam, yang dibimbing oleh Bapak: Abdel Haq, S.Pd.I.,
MA.
Simpang
Empat 08 Mai 2014
Penulis
BAB II
PEMBAHASAN
TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan
Islam berkembang dengan pesat sejak dari peninggalan Rasulullah hingga sampai
pada masa kita saat ini. Banyak para tokoh Pendidikan Islam yang tampil sebagai
pembaharu, dalam tulisan ini dibedakan menjadi dua generasi, yaitu: Pertama generasi
klasik terdiri dari tokoh di luar Indonesia, Kedua generasi modern
dikhususkan dalam Negara Indonesia. Berikut akan dijelaskan secara mendalam.
A.
Generasi Klasik
1.
Imam Ghazali
a.
Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali. Ia dilahirkan di
Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia, pada tahun 450 H / 1058 M.[1]
Imam Ghazali sejak kecil dikenal sebagai pecinta ilmu pengetahuan dan
penggandrung mencari kebenaran yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita,
dilanda aneka rupa duka nestapa dan sengsara.[2]
Al-Ghazali pada masa kanak-kanak belajar fiqh kepada Ahmad ibn Muhammad
ar-Radzakani, kemudian beliau pergi ke Jurjan berguru kepada Imam Abu Nashr
al-Ismaili. Setelah itu ia menetap lagi di Thus untuk mengulang-ulang pelajaran
yang diperolehnya dari Jurjan.[3]
b.
Pemikiran Pendidikan
Tujuan
pendidikan menurut Al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan
dan akhlak, dengan titik penekanannya pada Perolehan keutamaan dan taqarrub
kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan
kemegahan dunia.[4]
Sebagaimana yang dikutip Athiyyah Al-abrasyi bahwa Imam Ghazali berpendapat
“sesungguhnya tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah Azza
Wa Jalla.[5]
Al-Ghazali
tidak membedakan antara ilmu dengan Ma’rifah seperti tradisi umum kaum
sufi. Memeng ia pernah menyebutkan bahwa secara etimologi, ada sedikit
perbedaan antara keduanya, dan ia tidak keberatan atas pemakaian terma Ma’rifah
untuk konsep (tasawuf), dan ‘ilm untuk assent (tasqiq). Akan
tetapi dalam berbagai kitabnya, ia sering memakai dua terma itu sebagaiu arti
yang sama.[6]
2.
Ibn Sina
a.
Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn
Abdullah.[7]
Di barat populer dengan sebutan Avicenna.[8]
Beliau lahir pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, suatu daerah yang terletak di
dekat Bukhara, di kawasan Asia tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Balkan,
Suatu kota termasyhur dikalangan orang-orang Yunani. Diwafatkan di
Hamdzan-sekarang Iran, persia. Pada tahun 428 H (1037 M) alam usia yang ke 58
tahun, dia wafat karena terserang penyakit usus besar.[9]
Tampilnya Ibn sina selain sebagai ilmuwan yang
terkenal di dukung oleh tempat kelahirannya sebagai ib kota kebudayaan, dan
orang tuanya yang dikenal sebagi pejabat tinggi, juga karena kecerdasan yang
luas biasa. Sejarah mencatat, bahwa Ibn Sina memuylai pendidikannya pada usia
lima tahun di kota kelahirannya, Bukhoro. Pengetahuan yang pertama kali ia
pelajar adalah membaca Al-qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari
ilmu-ilmu agama Islam seperti Tafsir, Fiqh, Ushuluddin dan lain-lain. Berkat
ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal Al-qur’an dan menguasai
berbagai cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.[10]
b.
Pemikiran Pendidikan
Ibnu Sina banyak
kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut pemikirannya tentang
falsafat ilmu. Menurut Ibnu Sina terbagi menjadi 2, yaitu:
1. ilmu yang tak kekal
2. ilmu yang kekal
ilmu yang kekal dari peranannya sebagai alat dapat
disebut logika. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu
yang praktis dan ilmu yang teoritis.[11]
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina, yaitu :
1. Diarahkan kepada pengembangan
seluruh potensi yang dimiliki seseorang menuju perkembangan yang sempurna baik
perkembangan fisik, intelektual maupun budi pekerti.[12]
2.
Diarahkan pada upaya dalam rangka mempersiapkan seseorang agar dapat hidup
bersama-sama di masyarakat dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang
dipilihnya disesuaikan dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang
dimilikinya.[13]
3. Tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan, yang artinya mencetak tenaga
pekerja yang profesional.[14]
3.
Ibn khaldun
a.
Riwayat Hidup
Di tengah
konflik yang terjadi diantara Kerajaan-kerajaan kecil, Kerajaan bani Abdul Wad
Az-zanatiyah terkena musibah dan bencana yang berasal dari Kerajaan
tetangganya, yakni Kerajaan Bani Hafzh yang berada di Tunisia.[15] Dalam
suasana seperti itu ibn Khaldun lahir di Tunisia, awal Ramadhan tahu 732 H,
dari kjeluarga besar berbangga dengan nasab Arabnya yang berasal dari
Hadromaut, Yaman. [16]
Ibnu Khaldun tumbuh dan berkembang sebagai orang yang
mencintai ilmu. Pertama-tama ia menghafal Al-Qur’an lewat bimbingan ayahnya
sendiri. Lalu ia mempelajari ilmu Hadits, ilmu Fiqh, Ushul Fiqh, Bahasa,
Sastra, Sejarah, selain mempelajari Filsafat dan Ilmu Mantiq (logika).[17]
b.
Pemikiran Pendidikan
Ibnu Khaldun
tidak memberikan defenisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan
gambaran-gambaran secara umum, seperti dikatakan ibnu Khaldun bahwa “barang
siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman,
maksudnya barang siapa yang tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan
sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru
dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan
mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi
sepanjang zaman, zaman akan mangajarkannya.”[18]
Dari rumusan
yang ingin dicapai Ibnu Khaldun menganut priunsip keseimbangan. Dia inginanak
didik mencapai kebahagiaan duniawi dan sekaligus ukhrowinya kelak. Berangkat
dari pengamatan terhadap rumusan tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu
Khaldun, secara jelas kita dapat melihat bahwa ciri khas pendidikan islam yaitu
sifat moral religius nampak jelas dalam tujuan pendidikannya, dengan tanpa
mengabaikan masalah-masalah duniawi. Sehingga secara umum dapat kita katakan
bahwa pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan telah sesuai dengan
perinsip-perinsip pendidikan Islam yakni aspirasi yang bernafaskan agama dan
moral.
Ibnu Khaldun
memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan
kepada aqal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas.[19]
4.
Ikhwan As-Shafa
a.
Riwayat Hidup
Ikhwan al-Shafa (Persaudaraan) adalah organisasi dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak yang saat itu merupakan ibukota
Kekhalifahan Abassiyah sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok
yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan
Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka.
Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl
al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah buku yang sangat mereka hormati “Kalilah
wa Dimnah”.[20]
Kemunculan
Ikhwan Al Safa dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap pelaksanaan ajaran
Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran luar Islam, serta untuk
membangkitkan kembali rasa cinta pada ilmu pengetahuan. Organisasi ini sangat
merahasiakan anggotanya. Mereka bekerja dan bergerak secara rahasia, disebabkan
kekhawatiran akan tindak penguasa waktu itu yang cenderung menindas
gerakan-gerakan yang timbul.[21]
Di samping itu
juga, kelompok Ikhwan Al Safa mengklaim dirinya sebagai kelompok non partisan,
objektif, ahli pencita kebenaran, elit intelektual dan solid kooperatif. Mereka
mengajak masyarakat untuk menjadi kelompok orang-orang mu'min yang militant
untuk beramar ma'ruf nahi mungkar.[22]
b.
Pemikiran Pendidikan
Ikhwan al-Shafa juga
berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian
tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa
menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan
adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang
beraliran idealisme.[23]
Dalam mempelajari ilmu
pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan
umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan
tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga
memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri
sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan
ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat.[24]
B. Generasi Modren
1.
KH. Ahmad Dahlan
a.
Riwayat Hidup
Kyai Haji Ahmad Dahlan yang pada waktu kecilnya bernama Muhammad Darwis.
Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan Kyai Haji Abu Bakar
dengan Siti Aminah pada tahun 1285 H (1868 M ). Kyai Haji Abu Bakar adalah
khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ayahnya Siti Aminah adalah
penghulu besar di Yogyakarta.[25]
Kampung Kauman sebagai
tempat kelahiran dan tempat Muhammad Darwis dibesarkan merupakan lingkungan
keagamaan yang sangat kuat, yang berpengaruh besar dalam perjalanan hidup
Muhammad Darwis di kemudian hari. Ayahnya KH Abu Bakar adalah Khotib Masjid Agung Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan
belajar mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Sudah sejak kanak-kanak
diberikan pelajaran dan pendidikan agama
oleh orang tuanya, oleh para guru (ulama) yang ada di dalam masyarakat
lingkungannya. Ini menunjukan naluri melainkan juga melalui ilmu-ilmu yang
diajarkan kepadanya. Pengetahuan yang dimiliki sebagian besar merupakan hasil
otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya diperoleh dari belajar kepada
ayahnya, sahabatnya dan saudara-saudaranya dan iparnya. Ia di didik sendiri
melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang
diajarkan oleh ayahnya
b.
Pemikiran Pendidikan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk
menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran
yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada
skala prioritas utama dalam proses pembangunan ummat.[26]
Menurut KH. Ahmad Dahlan, pendidikan islam hendaknya
diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim
dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia
berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut KH. Ahmad
Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:[27]
1)
Pendidikan moral, akhalq yaitu
sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan
As-Sunnah.
2)
Pendidikan individu, yaitu sebagai
usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan
antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta
antara dunia dengan akhirat.
3)
Pendidikan kemasyarakatan yaitu
sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
2.
KH. Hasyim Asy’ari
a.
Riwayat Hidup
Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang Jombang, Jawa
Timur. Pada hari Selasa kliwon, tanggal 24 Dzulhijjah 1287 atau bertepatan
tanggal 14 Pebruari 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim ibn Asy’ari
ibn Abd. Al Wahid ibn Abd. Al Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bona ibn Abd.
Al Rahman Ibn Abd. Al Aziz Abd. Al Fatah ibn Maulana Ushak dari Raden Ain al
Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri.[28]
Dipercaya pula bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tinggir dan
raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI. Jadi Hasyim Asy’ari juga dipercaya
keturunan dari keluarga bangsawan.
Hasyim Asy’ari
adalah seorang kiai yang pemikiran dan sepak terjangnya berpengaruh dari Aceh
sampai Maluku, bahkan sampai ke Melayu. Santri-santri ada yang dari Ambon,
Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh, bahkan ada beberapa orang dari Kuala
Lumpur. Beliau terkenal orang yang alim dan adil, selalu mencari kebenaran,
baik kebenaran dunia maupun kebenaran akhirat. Semasa hidupnya beliau diberi
kedudukan sebagai Rais Akbar NU, suatu jabatan yang hanya diberikan kepada
Hasyim Asy’ari satu-satunya. Bagi ulama lain yang menjabat jabatan tersebut,
tidak lagi menyandang sebutan Rais Akbar melainkan Rais Am. Hal ini karena
ulama lain yang menggantikannya merasa lebih rendah dibandingkan Hasyim
Asy’ari.[29]
b.
Pemikiran Pendidikan
Pola pemaparan
konsep pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab Alim Wa Muta’allim
mengikuti logika induktif, di mana beliau mengwali penjelasannya langsung
dengan mengutip ayat-ayat al-qur’an. Hadits, pendapat para ulama, syair-syair
yang mengadung hikamah.dengan cara ini. K.H. Hasyim Asy’ari memberi pembaca
agar menangkap ma’na tanpa harus dijelaskan dengan bahasa beliau sendiri. Namun
demikaian, ide-ide pemikirannya dapat dilihat dari bagaimana beliau memaparkan
isi kitab karangan beliau[30]
Tujuan
pendidikan yang ideal menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah untuk membentuk
masyarakat yang beretika tinggi (akhlaqul karimah). rumusan ini secara implisit
dapat terbaca dari beberapa hadits dan pendapat ulama yang dikutipnya. Beliau
menyetir sebuah hadits yang berbunyi:
“diriwayatkan dari Aisyah r.a. dari
Rasulullah SAW bersabda : kewajiban orang tua terhadapnya adalah membaguskan
namanya, membaguskan ibu susuannya dan membaguskan etikanya.[31]
3.
K.H. Imam Zarkasyi
a.
Riwayat Hidup
KH. Imam Zarkasyi dilahirkan di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada tanggal
21 Maret 1910, dan meninggal pada tanggal 30 Maret 1985 dengan meninggalkan
seorang istri dan 11 orang anak.[32]
Ayahnya bernama Santausa Annam Bashari berasal dari keluarga elit Jawa yang
taat beragama dan merupakan generasi ketiga dari pimpinan Pondok Gontor Lama
dan generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kesepuhan
Cirebon. Sedangkan ibunya adalah keturunan Bupati Suriadiningrat yang terkenal
pada zaman babad Mangkubumen dan Penambangan (Mangkunegara).[33]
Sejak usia kanak-kanak
Imam Zarkasyi sudah hidup sebagai anak yatim, karena saat ia berusia delapan
tahun ayahnya meninggal dunia. Tidak lama kemudian ibunya juga meninggal yaitu pada tahun 1920.
Kemudian Imam Zarkasyi mulai belajar agama (mondok) di Pesantren
Joresan. Karena proses belajar di Pesantren diselenggarakan pada sore hari,
maka di pagi harinya ia belajar Sekolah Desa Nglumpang. Adapun kitab yang
diajarkan di Pesantren tersebut diantaranya adalah Ta’lim al-Muta’allim,
al-Sullam, Safinah al-Najah dan al-Taqrib.
b.
Pemikiran Pendidikan
4.
Hamka
a.
Riwayat Hidup
“Hamka bukan hanya
milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara”.Begitulah kata mantan Perdana Menteri Malaysia,Tun Abdul Rozak.Nama aslinya
ialah Haji Abdul Malik Karim Amrulloh biasa disebut dengan HAMKA yang merupakan
singkatan dari nama panjang beliau.[34] Beliau
lahir di Maninjau,Sumatra Barat pada tanggal 16 Februari 1908 M/ 13 Muharrom
1326 H.Belakangan ia diberikan sebutan Abuya,yaitu panggilan untuk orang
Minangkabau yang berasal dari kata abi,abuya yang berarti ayahku
atau orang yang dihormati. Ayahnya adalah Syech Abdul Karim ibn Amrulloh,yang
dikenal dengan Haji Rosul dan merupakan pelopor Gerakan Islah(tajdid) di
Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada 1906.[35]
Sejak kecil ia menerima
dasar-dasar agama dari sang ayah.Pada usia 6 tahun,ia dibawa ayahnya ke Padang
Panjang. Pada usia 7 tahun, ia dimasukkan ke sekolah desa dan malamnya ia
belajar mengaji al-Qur’an sampai khatam.
Beliau Sekolah Dasar
“Maninjau sehingga Darjah Dua” kemudian padausia 10 tahun, ayahnya mendirikan
sebuah lembaga pendidikan yang bernama “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang.
Di situ Hamka mempelajari ilmu agama dan mendalami bahasa Arab.
b.
Pemikiran Pendidikan
Pendidikan dalam pandangan Hamka terbagi 2 bagian yaitu:
1.
Pendidikan
jasmani,pendidikan untuk pertumbuhan & kesempurnaan jasmani serta,
2.
Pendidikan
ruhani,pendidikan untuk kesempurnaan fitrah manusia dengan ilmu pengetahuan &
pengalaman yang didasarkan pada agama.
Keduanya memiliki kecenderungan untuk berkembang dengan melalui pendidikan,
karena pendidikan merupakan sarana yang paling tepat dalam menentukan
perkembangan secara optimal kedua unsur tersebut. Dalam pandangan Islam kedua
unsur tersebut dikenal dengan istilah fitrah.Titik sentral pemikiran
Hamka dalam pendidikan Islam adalah “fitrah pendidikan tidak saja pada
penalaran semata, tetapi juga akhlakulkarimah”.
Fitrah setiap manusia pada dasarnya menuntun untuk senantiasa berbuat
kebajikan& tunduk mengabdi sebagai kholifah fi al-ardh maupun ‘abdulloh.
Ketiga unsur tersebut adalah akal, hati, & pancaindra yang terdapat
pada jasad manusia.Perpaduan ketiga unsur tersebut membantu manusia untuk
memperoleh ilmu pengetahuan dan membangun peradabannya, memahami fungsi
kekhalifahannya, serta menangkap tanda-tanda kebesaran
Allah.[36]
Tujuan Pendidikan dalam Pandangan HAMKA adalah “mengenal dan
mencari keridhoan Allah, membangun budi pekerti untuk beraklhlaq mulia” serta
“mempersiapkan peserta didik untuk hidupsecara layak dan berguna di
tengah-tengah komunitas sosialnya”.[37]
5.
Mahmud Yunus
a.
Riwayat Hidup
Prof. Dr. H. Mahmud Yunus Dilahirkan di Batu Sangkar pada
tanggal 10 Februari 1899 dan wafat pada tanggal 16 Januari 1982. Sejak kecil,
Mahmud Yunus sudah memperlihatkan minat dan kecenderungannnya yang kuat untuk
memperdalam ilmu Agama Islam. Ketika berumur 7 tahun, ia belajar membaca
al-Qur’an di bawah bimbingan kakeknya Muhammad Thahir yang dikenal dengan nama
Engku Gadang. Setelah menamatkan al-Qur’an, ia menggantikan kakeknyas ebagai
guru ngaji al-Qur’an. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi ke sekolah desa
dan kemudian melanjutkan studi ke Madras School. Selanjutnya padatahun 1917, ia
bersama teman-temannya mengajar di Madras School dengan memperbaru isi sitem
belajar mengajar dengan menambah sistem halaqah di samping sistem madrasah
dengan menggunakank itab-kitabmutakhir.[38]
Dengan bekal kemampuan bahasa Arab yang sangat baik,
padatahun 1924 Mahmud Yunus melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar di
Kairo, Mesir. Di sana ia memperdalam ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Setelah
lulus dari Universitas al-Azhar, ia melanjutkan studinya ke Daru lUlum dan
mendapatkan gelar diploma dengan spesialisasi dalam bidang pendidikan.[39]
b.
Pemikiran Pendidikan
Menurut Mahmud Yunus, pendidikan adalah suatu bentuk
pengaruh yang terdiri dari ragam pengaruh yang terpilih berdasarkan tujuan yang
dapat membantu anak-anak agar berkembang secara jasmani, akal dan pikiran.dalam
prosesnya ada upaya yang harus dicapai agar diperoleh hasil yang maksimal dan
sempurna, tercapai kehidupan harmoni secara personal dan sosial.segala bentuk
kegiatan yang dilakukan menjadi lebih sempurna, kokoh, dan lebih bagus bagi
masyarakat.[40]
Dari aspek tujuan pendidikan islam. Berkaitan dengan
tujuan pokok pendidikan Islam, Mahmud Yunus merumuskan dua hal, yaitu untuk
kecerdasan perseorangan dan kecerdasan mengerjakan pekerjaan. Ada yang
berpendapat bahwa tujuanpendidikan Islam ialah mempelajari serta mengetahui
ilmu-ilmu agama Islam dan mengamalkannya, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih,
dan lain sebagainya. Tujuan inilah yang dipaka ioleh madrasah-madrasah di
seluruhdunia. Bahkan ada ulama yang mengharamka nmempelajari ilmu pengetahuan
umum seperti Fisika dan Kimia. Tujuan seperti inilah menurut Mahmud Yunus yang
membuat Islam lemah dan tidak bisa mempertahanan kemerdekaannya.
Tujuan pendidikan islam menurut Mahmud Yunus ialah menyiapkan
anak-anak didik agar dewasa kelak mereka sanggup dan cakap melakukan pekerjaan
dan amalan akhirat , sehingga tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat.[41]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasyi. Muhammad
‘Athiyyah, 2003. At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (terjemah Abdullah Zaki
Al-Kaaf: Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam). Bandung : Pustaka
Setia.
Aly. Herry
Noer, 2003. Transformasi Otoritas Keagamaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Anwar. Saeful,
2007. Filsafai Ilmu Al-Ghazali. Dimensi Ontologi dan Aksiologi. Bandung
: Pustaka setia.
Asrofie.
M. Yusron, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya,
Fathoni. Khoirul & Muhamad Zen, 1992. NU Pasca Khittah. Yogyakarta:
Media Widia Mandala.
Gaudah. Muhammad Gharib, 2012. Albaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa
Al-Islamiyah, (alih bahasa: Muhyiddin Mas Rida, 147 Ilmuan Terkemuka Dalam
Sejarah Islam). Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar.
Hizah. Samsul,
2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Pers.
Ibn Khaldun, Mukaddimah
Ibn Khaldun, (alih bahasa Masturi Irham, Lc Dkk), (Jakarta Timur : Pustaka
Al-Kautsal, 2012
Jalaluddin & Usman Said, 1999. Filsafat
Pendididikan Islam. Jakarta, PT. Raja Grafindo
Kurniawan.
Samsul dan Erwin Makhrus, 2011. Jejak Pemikiran Tokoh
Pendidikan Islam .Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Mohammad.
Herry, 2006. Tokoh-Tokoh Islam yang
berpengaruh di Abad 20. Jakarta: Gema Insani Press.
Narasi, 2006. 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia. Yogyakarta:
PT. Narasi,
Nata. Abuddin, 1997. Filsafat Pendidikan Islam 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
____________, 2003. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri
Kajian Filsafat Pendidikan Islam, cet. III. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
____________, 2005. Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Nizar. Samsul, 2002. Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis. Jakarta:
Ciputat Pers.
_____________, 2008. Memperbincangkan Dinamika Intelektual
Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana.
Noer. Delias,
1985. Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif
(editor), Aliran-Aliran
Filsafat Islam,
Ramayulis dan
Samsul Nizar, 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
Ridlo, Muhamad
Jawad, 2002. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam. Jogjakarta. PT.
Tiara Wacana .
Sarwo Imam
Taufiq, 2008. Skipsi : Konsep
Pendidikan K.H. Hasyim asy’ari Dalam Kitab Adab A’lim Wa Mutaallim Dalam
Perspektif Progresivisme. Semarang: Tidak ada Penerbit ,
Sina. Ibn, 1906. As-Siyasah Fi at Tarbiyah. Mesir; Majalah
al-Masyrik. Dalam http://pustakaazham.blogspot.com/2012/05/konsep-pendidikan-menurut-ibnu-sina.html
________, t. Thn. Al-Burhan min as-Syifa’. Mesir, al-Mathba’ah
al-Aminah. Dalam http://pustakaazham.blogspot.com/2012/05/konsep-pendidikan-menurut-ibnu-sina.html
Yunus. Mahmud, ,1990. Pokok-Pokok
Pendidikandan Pengajaran. Jakarta:hidakarya.
_______________, at-Tarbiyah wa at-Ta’lim. Ponorogo:
Darussalam PP. Wali Songo
Zar.
Sirajuddin, 2012. Filsat islam. Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
[1] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, cet. III. (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003), h. 81.
[2] Ibid.
hal 82
[3] Ramayulis dan Samsul
Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 2011), h. 271
[4] Ibid h..
273
[5] Muhammad
‘Athiyyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (terjemah Abdullah Zaki
Al-Kaaf: Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam), (Bandung : Pustaka
Setia, 2003), h.13
[6] Saeful Anwar, Filsafai
Ilmu Al-Ghazali. Dimensi Ontologi dan Aksiologi. (Bandung : Pustaka setia,
2007), h. 94
[7] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Op.Cit. h. 59
[8] Sirajuddin
Zar, Filsat islam. Filosof dan Filsafatnya. (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2012), h.91
[9]
Muhammad Gharib
Gaudah, Albaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah, (alih bahasa:
Muhyiddin Mas Rida, 147 Ilmuan Terkemuka Dalam Sejarah Islam), (Jakarta Timur :
Pustaka Al-Kautsar, 2012), h. 277
[10] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Op.Cit. h. 61-62
[11] Jalaluddin & Drs. Usman Said,
Filsafat Pendididikan Islam, (Jakarta, PT. Raja Grafindo,1999), h.136
[12] Ibn Sina, As-Siyasah Fi at Tarbiyah, (Mesir;
Majalah al-Masyrik, 1906), h. 1076. Dalam http://pustakaazham.blogspot.com/2012/05/konsep-pendidikan-menurut-ibnu-sina.html
[14] Ibn. Sina, Al-Burhan min as-Syifa’, (Mesir,
al-Mathba’ah al-Aminah, t. thn), hal. 57. Dalam http://pustakaazham.blogspot.com/2012/05/konsep-pendidikan-menurut-ibnu-sina.html
[15] [15] Ibn
Khaldun, Mukaddimah Ibn Khaldun, (alih bahasa Masturi Irham, Lc Dkk),
(Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsal, 2012), h. 3
[16] Ibid.
[17] Ibid.
[18] Ibid. h.
Xi (pendahuluan penerjemah)
[19] Ramayulis dan Samsul
Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. Op. Cit. h.
[21] Samsul Hizah, .
Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta. Ciputat Pers, 2002), h. 96
[22] Muhamad Jawad
Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; (Jogjakarta. PT. Tiara
Wacana 2002), h. 146
[24] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam
Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers,
2002), h. 99
[26] Samsul Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, Op.
Cit. h.
107
[27] Delias Noer, Gerakan
Modern Islam di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1985), h. 204
[28]Abuddin Nata. Tokoh-tokoh
Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Rajagrafindo Persada.
2005), h. 113
[29] Khoirul
Fathoni & Muhamad Zen, NU Pasca Khittah, (Yogyakarta: Media Widia
Mandala, 1992), h.25
[30] Sarwo Imam
Taufiq, Skipsi : Konsep
Pendidikan K.H. Hasyim asy’ari Dalam Kitab Adab A’lim Wa Mutaallim Dalam
Perspektif Progresivisme, (Semarang: Tidak ada Penerbit , 2008). 22
[31] Ibid.
h. 26
[32] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam
Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Op.Cit. h.195
[33] Herry Noer Aly, Transformasi Otoritas Keagamaan,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal.145
[34] Narasi, 100
Tokoh yang Mengubah Indonesia (Yogyakarta: PT. Narasi, 2006), h. 79
[35] Samsul
Kurniawan dan Erwin Makhrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), h. 225
[36] Syamsul
Kurniawan dan Erwin Makhrus, Op. Cit, hal. 229-230
[37] HAMKA, Lembaga
Hidup. Dalam Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual
Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), h. 117
[38]Abuddin Nata. Tokoh-tokoh
Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Op. Cit. h. 57
[39] Herry
Mohammad, Tokoh-Tokoh Islam yang
berpengaruh di Abad 20 (Jakarta: Gema Insani Press, 2006) h. 86
[40] Mahmud Yunus, at-Tarbiyah
wa at-Ta’lim, (Ponorogo: Darussalam PP. Wali Songo), 12
[41] Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikandan Pengajaran(Jakarta:hidakarya,1990)
h. 11-19 cet. III

Tidak ada komentar:
Posting Komentar